Kegagalan cabang olahraga sepak bola yang menurunkan Timnas Indonesia U-23
dalam meraih medali emas di SEA Games 2015 membuat banyak pihak miris.
Terlebih lagi, kontingen Indonesia juga tidak mampu merealisasikan
target.
Indonesia bahkan hanya menempati posisi kelima di SEA Games 2015 Singapura, di bawah Thailand, Singapura, Vietnam dan Malaysia.
Asisten Pengembangan Penghargaan dan Promosi Kemenpora, Alman Hudri,
mengatakan jika pembinaan olahraga harus dimulai dari usia dini serta
dilaksanakan dengan baik dan benar, secara berjenjang dan
berkesinambungan.
Bagusnya pembinaan dan pengelolaan olahraga
Indonesia di tahun 1970-1980-an, termasuk dengan didirikannya Sekolah
Khusus Olahraga Ragunan yang menghasilkan banyak atlet handal dan
berprestasi membanggakan, telah dijadikan rujukan setidaknya oleh
Thailand dan Malaysia. Namun, kondisi saat ini berbalik karena Indonesia
yang dulu dicontoh, kini justru dicemooh karena prestasi olahraganya
telah tertinggal.
"Negara-negara yang dulu mencontoh Indonesia
dalam pembinaan olaraga, sekarang sudah jauh meninggalkan kita dari segi
pencapaian prestasi di multi event internasionalnya. Thailand telah
menjadi langganan juara umum SEA Games, bahkan Malaysia yang akan
menjadi tuan rumah SEA Games tahun 2017 sudah mencemooh dengan tidak
akan mempertandingkan cabang olahraga yang tidak dipertandingkan di
ajang Olimpiade. Tujuannya, agar menjadi juara sejati karena tidak
karena cabang olahraga tambahan. Misalnya saja, Indonesia yang menjadi
juara umum lantaran mendapat banyak medali dari cabang olahraga tambahan
sebagai tuan rumah," katanya.
Tradisi emas Olimpiade juga telah
putus. Karena itu, harus ada langkah strategis dan sistematis untuk
mendokrak kebuntuan prestasi. Pembinaan olahraga dari usia dini secara
baik dan benar adalah kunci utama, sebab tidak ada yang instan dalam
pencapaian prestasi.
"Pada era 70-an di negara kita belum banyak
mempunyai Profesor olahraga, begitu juga dalam segi prasarananya nyaris
kita hanya terbatas pada peninggalan Asian Games 1962 yang dibangun di
komplek Senayan. Tapi ironisnya dengan segala keterbatasan tersebut
pelaksanaan olahraga mulai dari usia dini nyaris dilakukan dengan
sempurna. Mulai dari melakukan pemanduan bakat, pengelompokan dan
memilah milah bakat, melakukan pemeliharaan dan pembinaan bakat,
melakukan pembinaan dan pengembangan bakat, semuanya berjalan dengan
baik. Sehingga pada masa itu capaian dan kualitas prestasinya sangat
membanggakan," sambung Alman.
Dengan kata lain, lanjut Alman,
struktur dan wadah pembinaan, mulai dari pemassalan, pembibitan dan
peningkatan prestasi harus dioptimalisasi dan kembali digairahkan.
Kegiatan ekstra kurikuler di sekolah-sekolah dan kalangan pesantren
sebagai tahap pemassalan harus digalakkan.
Kemudian pembibitan yang terdapat di kelas-kelas olahraga sekarang berbentuk Pusat Pembinaan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP)
di berbagai provinsi mesti dioptimalkan, termasuk dalam penentuan skala
prioritas cabor sesuai dengan potensi masih-masing daerah. Sementara
pembinaan prestasi usia dini lewat klub-klub professional yang bernaung
di bawah organisasi olahraga jumlahnya terus tergerus sedapat mungkin
harus kembali dihidupkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar